Tuhan! Langkahku semakin reyot
Kulit-kulitku semakin tipis meleyot
Tulang-tulangku mulai menjorok ke luar
Kerongkonganku mulai mengering tempiar
Inikah akhir hidupku?
Di tanah gersang rerumputan
Aku terkapar dalam pedih yang memaku
Lapar, aku kelaparan
Adakah yang entah kan menolongku?
Melepaskan aku dari penderitaan
Dari teriknya sang surya yang memangku
Membakar aku yang tak lagi berlemak
Aku masih lapar
Sebiji pun nasi tak masuk menusuk perutku
Setetes pun air tak mengalir sehilir masuk
Aku kering, kekeringan
Datanglah burung nazar si pemakan bangkai
Makanlah aku, cicipi tulang-tulangku
Biarkan aku mati dan lepaskan penderitaanku
Aku rela dibanding harus tersungkur pedih
Sengsara dengan perut yang melilit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar