Selasa, 15 Maret 2016

ASISTEN PRIBADIKU

Cerita dewasa kembali dengan cerita baru, dari pengalaman seorang bos yang memiliki asisten pribadi, banyak orang berfikir dan bernegatif thinking soal hubungan bos dengan sekretaris ataupun asisten pribadi, karena komunikasi sering bisa jadi buah-buah cinta muncul,,, seperti dalam kisah berikut ini.
Aku menjabat Kepala Cabang perusahaan asing ternama disalah satu kota di Sumatra. Dalam pekerjaan ku, salah satu team ku sebagai asisten ku,bernama Ika sudah bersama ku selama 3 tahun lebih. Ika sangat menarik, dandanannya cukup simple, namun suka pakai rok mini. Dalam pekerjaan sehari-hari aku dan Ika selalu membicarakan tugas, tidak pernah melenceng ke hal-hal sex, meskipun aku sering mencuri-curi ke arah pahanya yang mulus, yang tidak ter”cover” oleh rok-nya yang mini. Sering aku menghampiri meja kerjanya untuk membicarakan tugas, dan Ika dengan santainya membicarakan serius tanpa gaya merayu atau apapun. Paha yang terlihat pun tidak ada usaha untuk menutupinya ataupun. Pokoknya hubungan ku “straight” sebatas pekerjaan.
Adalah hal rutin untuk saya berkunjung ke kantor pusat Jakarta untuk urusan rapat dll. Namun kejadian minggu lalu adalah hal yang benar2 berbeda.
Undangan rapat pun tiba dan kantor pusat memanggil kami untuk rapat membicarakan krisis, karena cukup penting maka kantor pusat memanggil beberapa staff cabangku termasuk Ika.
Sengaja aku sampaikan ke Ika bahwa dia aku utuskan untuk hadir di Jakarta, namun dibalik itu aku memang rencanakan untuk hadir, aku booking tiket pesawat secara terpisah.
Pada hari H, aku langsung check in di counter Garuda, saat boarding sengaja aku masuk pesawat paling akhir, sambil jalan di gang aku lihat penumpang dan terlihatlat Ika yang sudah duduk dikursi jendela. Belum selesai dia terkaget akan kehadiranku, aku sudah langsung bilang bahwa aku putuskan untuk ikut rapat. Dalam perjalanan hampir dua jam lebih aku hanya bisa melihat Ika dari belakang, karena aku dapat kursi paling belakang sedangkan Ika ada ditengah.
Saat mendarat di Jakarta, langsung aku menghampirinya dan aku jelaskan lagi bahwa aku putuskan untuk ikut karena pentingnya rapat ini, dan Ika pun hanya mengangguk sembari menjawab “Ya Pak” dengan nada pelan, sambil dalam hati kebingungan (mungkin).
Dari Airport Jakarta langsung kami menuju ke Hotel Mulia tempat kami meeting dan menuju ke salah satu Ballroom untuk mengikuti meeting. Karena waktu yang mepet sekali, kami langsung menuju ke Ballroom tsb tanpa check in kamar terlebih dahulu. Rapat pun berjalan serius dan berakhir sore hari.
Saya langsung suruh Ika untuk check in ke reception, sempat Ika menanyakan apakah saya mau check in kamar juga. Saya jawab nanti saya susul setelah saya menemui atasan saya di Ball room itu.
Selesai berbicara dengan atasan saya, saya menuju ke reception, dari jauh aku melihat Ika dari belakang dengan rok mininya serta terlihat pahanya yang mulus yang sudah aku hafal benar…
Ku dekati Ika dan langsung Ika nanya, Bapak mau check in juga? Aku hanya bilang kamu check in saja dulu, aku nanti nyusul.
Selesai check in Ika menuju lift untuk kekamar, aku ikuti sambil membicarakan topic rapat tadi, Ika pun masuk lift dan memasukkan kartu kamarnya dan menekan tombol lantai 17. Didalam lift aku jelaskan bahwa kamar hanya pesan satu, dan aku tanya Ika apakah dia keberatan kalau aku gabung dikamar dia, plus aku tambahkan sekalian menghemat anggaran kantor cabangku, toh cuman untuk tidur saja.
Ika terlihat bingung namun juga tidak bilang keberatan atau tidak keberatan, sambil jalan ke kamar yang dituju. Sesampainya dikamar aku langsung aja menaruh koper kecilku, dan Ika sempat menanyakan apakah aku serius mau sekamar dengannya.
Aku tegaskan lagi bahwa kalau hanya untuk tidur semalam gak ada masalah. Akhirnya sambil terheran-heran, Ika meng-iya-kan, tanpa menyebut syarat-syarat.
Kami pun mulai melepaskan baju kantor kami, aku lepas dikamar dan Ika masuk ke kamar mandi untuk ganti baju sekaligus membersihkan diri.
Aku hanya bilang sehrian capek kita gak usah keluar makan, kita order room service saja, Ika pun langsung setuju.
Sambil menunggu makanan room service aku pun mandi, namun dalam otak ku hanya terbayang tubuh Ika yang mulus.
Setelah kami makan, Ika pun kembali ke kamar mandi (aku pun tidak tahu apa yang dia perbuat), aku santai sambil nonton Star Sport dikamar, duduk di soaf yang nyaman. Interior hotel yang indah membuat suasana sangat romantis, ditambha sinar lampu yang pas.
Ika pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan daster warna kuning muda, sambil berbaring di ranjang dan ikut menonton Star Sport, Ika menanyakan mengenai posisi tidur, karena ranjang yang kami dapat adalah King Size Bed, aku hanya bilang aku biasa di sebelah kanan, maka Ika pun langsung ke sebelah kiri.
Ika tidak menyukai tayangan sport di TV, dan dia bilang mau tidur. Sepuluh menit kemudian aku pun ke tempat tidur, lampu aku redupkan, dengan hati yang berdebar.
Lima menit, sepuluh menit waktu berlalu aku [pun tidak bisa langsung tidur lelap. Ku lihat Ika pun beberapa kali pendah posisi, yang pasti Ika belum bisa tidur juga.
Setengah jam pun berlalu, kondisi masih sama, kami berdua masih gelisah dalam hati, sampai pada akhirnya aku usap daster Ika warna kuning muda yang sedang bertolak muka dengan aku. Dengan pelan namun pasti, Ika membalikkan badan dan kontan tangannya membalas usapanku.
Aku langsung mendekat dan memeluk tanpa tolakan sedikitpun dari Ika, malah Ika pun memulai gerakan erotisnya. Aku aba pahanya yang sering aku tatap dikantor kini ada di genggamanku. Tangan jahil ku pun mulai meraba hingga ke arah Miss. V nya.
Tak sabar aku langsung perlahan melepas dastenya yang lembut, dan sekali lagi Ika pun tidak menolaknya, bahkan wajahnya dibuat manja, sehingga aku tak tahan untuk menciuminya. Lepaslah sudah datser kuning muda itu, dan dari wajah aku turun menciumi leher, pundak, dan akhirnya menuju ke ketiaknya yang bersih tanpa bulu, Ika pun mulai mengerang-ngerang nikmat.
Puas mencium kedua ketiaknya, aku menuju toked-nya yang kencang pertanda birahi. Beberapa saat kemudian aku menelusuri perut hingga tiba di Miss V nya yang masih tertutup celana dalam. Kunikmati celana dalamnya nya yang halus di remang-remang kamar Hotel Mulia yang romantis. Ika mengenakan celana dalam biasa (bukan lingerie) warna krem dengan gambar kecil panda lucu. Ku sadari bahwa Ika tidak menyangka kalau malam itu dia ada acara “honeymoon” dengan aku.
Perlahan sambil menikmati celana dalamnya yang biasa, aku melepaskan nya melihat Miss V nya yang ditumbuhi rambut yang natural. Foreplay pun dimulai dengan berbagai posisi dan bertaburan kecupan dari masing-masing insan. Aku sadar bahwa Ika pun sudah siap setelah meraba Miss V nya yang sudah licin sekali.
Aku pun melepas busana secepat kilat dan langsung menancapkan secara perlahan tapi pasti Mr. P ku ke Miss V nya. Wow, beberapa kali goyangan di Miss V yang licin sempat membuat Mr. P ku muntah, tapi aku pakai teknik untuk mengurangi sensitivitas. Beberapa posisi aku coba sampai pada saatnya Ika yang sedang berada diatasku tiba2 mengerang sambil kurasakan Miss V nya makin menghimpit Mr. P ku, saat itulah Ika mengalami orgasme yang hebat. Tak kuasa aku melihat sambil merasakan Miss. V nya yang lagi action, aku pun mencapai puncaknya, namun aku langsung sadarbahwa aku belum pernah membicarakan soal kontrasepsi yang dia pakai (gak tahu pakai atau tidak), dengan berat hati aku langsung angkat sedikit tubuh Ika agak Mr. P ku keluar segera dai Miss V nya, dan muntah sperma ku di tubuhku sendiri, sedikit mengenai perut Ika.
Tanpa ijin Ika aku langsung tarik daster kuning mudanya untuk mengelap sperma yang berceceran, Ika pun tidak sempat komplain karena dia lemas dan penuh kepuasan….
Dalam hitungan menit, kami pun berdua tertidur lelap tanpa busana, hanya berselimutkan selimut putih tebal yang lembut…
Ketika matahari pagi mulai bersinar, korden Hotel Mulia yang tidak rapat tertutup menembuskan sinar matahari pagi yang mebangunkan kami. Tak tersadarkan aku bangun sambil memeluk perut Ika yang ramping dan mulus. Aku pun mulai mengusap kelembutan kulitnya, kuciumi bibirnya dan Ika pun terbangun. Beberapa pelukan pun terjadi yang membuat Mr. P ku memanjang lagi, tanpa basa basi yang panjang aku pun terlibat dalam permainan yang tidak kalah serunya, kali ini to the point karena semuanya sudah terbuka. Beberapa kalai kami berganti posisi bagai pegulat profesional, hingga akhirnya posisiku diatas dan terus menggenjot Miss V nya yang licin. Lebih lama dari pergulatan semalam, aku mampu menahan klimaks, Ika pun terlihat sudah mencapai orgasme, dan aku pustuskan untuk memuntahkan sperma ku, sekali lagi diluar Miss V nya, rambut kemaluannya pun terlihat berceceran sperma ku. Sempat kuatir kalau kalau ada sperma yang masuk ke Miss V nya, ceritanya bisa panjang nantinya….
Setelah berpelukan yang bermesraan ala romantic, kami pun segera mandi bersama, mengingat waktu yang harus kami kejar untuk rapat hari kedua, kami pun hanya mandi bersama plus sedikit saling mengusap dengan sabun.
Demikian dulu cerita seks dengan asisten pribadi kali ini, baca juga cerita-cerita kami yang lain yang bisa membuat anda mendapatkan pelajran dari kehidupan dan pengalaman orang lain.

Rabu, 03 Februari 2016

Cerpen: Kematian Seorang Dermawan karya Justang Zealotous

kematian seorang dermawan
[Dimuat di Metro Riau, Minggu, 24 Januari 2016]

Puncak segatan matahari terjadi lagi, padahal ini sudah masuk musim penghujan. Pasir kembali mendidih. Angin berembus seperti kobaran api yang menyala. Ini memang aneh. Tapi, tidak ada yang lebih mengejutkan selain kabar kematian Pak Burhan, pria berumur yang begitu dermawan, di siang bolong begini. Banyak yang bilang, Pak Burhan mati kelaparan.
Semua orang berbondong-bondong menaruh tanya. Mengapa Pak Burhan bisa menjemput maut karena kelaparan? Sosoknya yang pemurah dan selalu membantu banyak orang seolah mustahil kematian seperti itu yang menimpanya. Jika Pak Burhan mati stroke atau serangan jantung, mungkin semua orang akan terima karena umurnya yang memang sudah tua. Pertanyaannya lagi, kenapa dia sampai mati kelaparan? Tidak adakah orang yang memberinya makan?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di kepala banyak orang. Tidak ada yang menyangka akan seperti ini akhir hidup Pak Burhan. Saya sendiri sontak kaget mendengar kabar angin itu. Namun, bagaimanapun jenazah Pak Burhan telah diangkut dengan ambulans menuju tempat peristirahatannya yang terakhir.
Iring-iringan pengantar jenazah sangat banyak diikuti suara sirene ambulans yang meraung-raung. Semua seperti menyimpan kehilangan yang mendalam. Betapapun, Pak Burhan telah mencetak banyak amal kebaikan. Kemurahan hatinya dan kesederhanaannya. Satu yang masih saya sesalkan, kenapa Pak Burhan yang kami kenal baik harus mati kelaparan?
Saya dan Pak Burhan memang tidak terlalu dekat. Saya mengenalnya hanya sebatas rekan kerja sebelum akhirnya dia mengundurkan diri. Kami sama-sama kerja sebagai buruh di pabrik beras. Meskipun Pak Burhan cukup berumur ketimbang kami yang bekerja dengannya tapi dia memiliki semangat kerja yang lebih besar daripada kami.
Saya tidak pernah melihatnya mengeluh sama sekali walaupun mesti lembur hampir tiap hari. Suatu hari saya melihatnya telah bermandikan keringat, sambil batuk-batuk dia masih menyelesaikan pekerjaannya. Menumbuk padi dan menggilingnya.
“Pak, kenapa tidak istirahat saja?” Saya mengingatkan. “Nanti saya gantikan pekerjaannya.”
“Tidak apa-apa. Sebentar lagi juga selesai,” katanya masih penuh semangat.
Saya mendekat padanya, bermaksud membantu pekerjaannya. “Pak Burhan ini hebat.”
Pak Burhan tersenyum mendengar pujian saya.
“Bapak ini kan lebih tua daripada kami semua. Tapi, semangat Bapak masih seperti anak muda. Sama sekali tidak pernah capek.”
Dia terkekeh. “Saya juga pernah capek. Tapi bukan berarti itu adalah alasan saya untuk mengeluh. Saya masih bisa kerja. Saya masih bisa kasih makan diri sendiri. Sementara banyak orang tunggang langgang cari kerja untuk makan. Makanya, ya, disyukuri saja.”
Begitupun, setelah setahun lebih bekerja di pabrik, Pak Burhan memutuskan untuk mengundurukan diri. Alasan tepatnya tidak begitu saya ketahui, tapi kata beberapa rekan kerja, Pak Burhan sudah merasa beda visi dengan di pabrik. Banyak kejanggalan yang tidak diingini, misalnya gaji yang tidak seimbang dengan pekerjaan atau ego tinggi yang dimiliki pihak pengelola yang selalu membedakannya dengan buruh lain hanya karena masalah umur. Dia dianggap tidak becus lagi. Namun, setelah pengunduran dirinya, Pak Burhan kadang jadi kuli panggul, kuli bangunan, atau apa saja yang bisa dikerjakannya.
Saya kian kagum pada sosok yang lumayan ringkih itu. Selain sifat kesederhanaannya dan dengan semangat yang tinggi, Pak Burhan banyak membantu orang padahal dia sendiri sedang kesusahan. Dia bukan orang yang berkecukupan tapi terlihat selalu cukup jika bersedekah.
Hal yang saya heran dari Pak Burhan, meskipun suka membantu sesama tapi dia paling tidak suka dibantu orang. Dia selalu beralasan bahwa dia masih kuat untuk mendapat bantuan. Pernah sesekali saya melihat Pak Burhan jalan kaki sendirian. Tampaknya perjalanan kaki Pak Burhan sudah lumayan jauh atau matahari yang semakin terik saja hingga Pak Burhan terlihat begitu letih, baju kaosnya bahkan basah karena keringat. Beberapa kali dia mengusap dahinya dengan lengan.
Saya yang kala itu mengendarai motor menuju pasar berhenti tepat di sampingnya. Saya mencoba untuk memberikan tumpangan padanya.
“Pak, mau ke mana?” tanya saya pelan.
“Mau ke terminal,” jawabnya.
“Oh, ikut saya saja. Toh, saya mau ke pasar dan jalurnya searah.”
“Tidak! Terima kasih. Adek jalan saja.” Pak Burhan menolak sambil tersenyum sedikit. Dari wajahnya, saya bisa melihat guratan keletihan di dalamnya.
“Ikut sajalah, Pak! Kelihatannya Bapak capek sekali apalagi masih jauh perjalanannya.”
Pak Burhan tetap menolak. Dalihnya dia ingin olahraga. Daripada maksa terus dan akhirnya terdengar menyinggung. Saya pun memutuskan pergi sendiri. “Kalau begitu saya duluan, Pak!”
“Hati-hati.” Dia masih sempat teriak saat itu. Dalam teriakannya, tetap terdengar rasa semangat di sana. Pak Burhan memang hebat.
Hal-hal yang saya paling kenal dari Pak Burhan terasa mengaburkan kabar penyebab kematiannya. Mati kelaparan. Saya benar-benar tidak percaya. Pasti ada orang-orang yang sengaja menyebar gosip tentang itu.
Setelah jenazah Pak Burhan dimasukkan ke dalam liang lahat dan dibacakan doa oleh Pak Imam, para rombongan meninggalkan makam. Di antara rombongan itu, tidak seorang pun yang saya lihat merupakan keluarga dekat Pak Burhan. Kebanyakan dari yang datang hanyalah mantan rekan kerja Pak Burhan, tetangganya, dan orang-orang yang mengenalnya atau mungkin yang pernah dibantunya.
Selama saya mengenal Pak Burhan, saya memang tidak pernah mendengar kabar soal keluarganya. Hingga umur genap lima puluh dua, Pak Burhan tetap menjadi bujang lapuk. Saya tidak tahu menahu mengapa Pak Burhan tidak mencari istri. Ada yang bilang, Pak Burhan tetap setia sendiri karena tidak mau menyusahkan seorang wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Hidup sudah susah, tidak perlu dibikin tambah susah.
Pak Burhan juga tidak memiliki kerabat dekat. Dia telah lama hidup sendiri sebagai manusia perantauan. Pak Burhan seperti hidup sebatang kara.
Sepulang dari mengantar jenazah Pak Burhan, sudah banyak obrolan soal mengapa Pak Burhan sampai mati kelaparan. Semua seakan menyesal telah melupakan sosok yang selama ini banyak membantu. Seperti sebuah ketidakadilan, banyak yang merutuki kelalaian masyarakat sekitarnya sampai membiarkan Pak Burhan harus hidup di tengah perut yang kosong.
Pak Lurah dengan inisiatif beberapa warga pun mengadakan pertemuan mendadak di balai desa untuk membahas penyebab kematian Pak Burhan, yang terasa sangat disesalkan. Pak Lurah membuka pertemuan dengan sedikit pidato.
“Innalillahiwainnailaihirajiun! Telah berpulang, keluarga kita, saudara kita, sahabat kita, Pak Burhan Saleh. Dia sosok yang kita kenal begitu baik dan dermawan. Banyak di antara kita yang telah mendapat bantuan darinya. Termasuk saya pribadi. Saya dan tentunya kalian semua merasa kehilangan akan sosoknya. Namun, keresahan saya timbul ketika mendengar kalau Pak Burhan meninggal karena kelaparan. Mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Ini pasti sebuah kelalaian. Saya mengadakan pertemuan ini agar tidak ada lagi korban kelaparan selanjutnya.”
Semua orang yang hadir menundukkan kepala. Ada guratan sedih di wajah mereka. Beberapa orang yang mengenal begitu dekat sosok Pak Burhan bahkan meneteskan air mata. Suasana pun menjadi senyap dan haru.
Di tengah kegamangan, Pak Amin, tetangga Pak Burhan, angkat bicara. “Semenjak Pak Burhan tidak lagi kerja di pabrik, dia memang selalu kelayapan tidak jelas. Apalagi umurnya yang sudah tidak muda lagi, Pak Burhan sempat beberapa kali sakit. Dulu, saya pernah melihat dia keluar rumah. Ketika ditanya mau ke mana, katanya ingin membeli obat. Saya tahu betul kalau Pak Burhan itu orang baik dan beberapa kali juga membantu saya. Tiap kali diberi uang, dia selalu tolak dan menganggap itu keikhlasan. Saat itu, saya bermaksud ingin menolongnya untuk membelikan obat yang diingini, sekaligus balas budi. Namun sekali lagi, Pak Burhan menolak bantuan saya. Makanya, karena sering sekali ditolak, saya pun jadi sungkan untuk membantunya bahkan terkesan mengabaikan padahal saya paham dia juga mengharap bantuan. Jika saya kurang perhatian padanya, saya minta maaf. Kematiannya juga bukan mau saya.” Pak Amin mengakhiri ucapannya dengan tatapan menyesal.
“Saya juga.” Sebuah suara terdengar lagi. Seseorang pun maju di hadapan para warga yang hadir. Dia adalah Pak Jahid. Seorang bapak berkumis tebal itu bukan mantan rekan kerja, tetangga, apalagi keluarga Pak Burhan. Mungkin dia orang yang juga pernah dibantu olehnya.
Pak Burhan memang membantu semua orang tanpa melihat status dan kedekatan. Pak Burhan pernah bilang, jika kita membantu, bukan dilihat dari siapa yang kita bantu tapi apa yang bisa kita bantu.
“Kamu juga apa?” Pak Lurah bertanya.
“Saya juga pernah ditolong Pak Burhan. Bahkan saya merasa telah berutang budi padanya. Namun saya minta maaf.” Pak Jahid tiba-tiba mengubah ekspersi wajahnya dengan begitu menyesal.
Semua orang lantas menatap Pak Jahid dengan bingung.
“Sehari sebelum Pak Burhan meninggal. Saya sempat melihat dia berjalan sambil membawa bakul besar. Saya ingin mendekatinya untuk memberi bantuan tapi urung karena saya pikir dia akan kembali menolak. Soalnya saya sempat malu besar ketika berusaha menolongnya di hari lain dan ditolak mentah-mentah di depan banyak orang. Dia bilang saat itu kalau dia bukan lagi orang tua dan masih kuat untuk bekerja sendiri. Dia lalu pergi meninggalkan saya.” Pak Jahid mulai meneteskan air mata. “Padahal maksud saya baik. Kemudian saat dia tampak capek menenteng bakul dari sana ke mari, dia pun terjatuh. Saya tetap tidak menolongnya. Saya menyesal sekali. Apalagi saya langsung pergi saat itu.”
Mendengar berbagai cerita penyesalan yang dialami mereka bersama Pak Burhan, saya jadi teringat namun tidak ingin menyampaikan di depan khalayak. Saya seperti malu pada diri sendiri hanya karena Pak Burhan juga sering menolak bantuan saya.
Kala itu. Saya melihat Pak Burhan terjatuh. Saya melihat bakul berisi nasi sisa itu berserakan di tanah. Saya melihat dia berjuang seorang diri untuk memunguti nasi sisa itu sedikit demi sedikit. Namun saya tidak membantunya dan malah pergi meninggalkannya. Pak Burhan, kami menyesal, saya sangat menyesal.

Watampone, 10-01-15 22:20


JUSTANG ZEALOTOUS. Menulis cerpen, puisi, dan artikel. Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP Muhammadiyah Bone. Anggota dari Forum Lingkar Pena Cabang Bone. Beberapa karyanya sudah pernah diterbitkan.